Wisata De Djawatan Banyuwangi: Panduan Merasakan Sensasi Hutan Lord of the Rings di Dunia Nyata
Pernahkah kamu membayangkan berjalan di tengah hutan purba yang magis, di mana pohon-pohon raksasa dengan dahan yang saling meliuk menutupi langit, persis seperti adegan di film Lord of the Rings? Jika kamu pikir tempat seperti itu hanya ada di Selandia Baru atau di layar bioskop, maka kamu harus segera berkemas dan berkunjung ke Banyuwangi.
Selamat datang di De Djawatan Banyuwangi, sebuah destinasi wisata alam yang belakangan ini sukses menghipnotis para traveler dari berbagai penjuru. Banyuwangi memang tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kita berdecak kagum. Setelah puas mendaki Kawah Ijen atau berselancar di Pantai Plengkung, mampir ke rimbunnya hutan trembesi ini adalah pilihan terbaik untuk menenangkan pikiran dan healing sejenak dari hiruk-pikuk kota.

Yuk, kita bedah tuntas segala hal yang perlu kamu tahu sebelum berangkat liburan ke sana!
Mengapa De Djawatan Harus Ada di Itinerary Kamu?
Banyak orang yang datang ke Banyuwangi hanya fokus pada wisata pantainya atau kawah birunya yang ikonik. Padahal, memasukkan De Djawatan ke dalam daftar kunjunganmu akan memberikan dimensi liburan yang sama sekali berbeda. Tempat ini bukan sekadar taman biasa; ini adalah keajaiban ekologi yang sarat akan sejarah.
Pesona Hutan Trembesi Raksasa yang Magis
Daya tarik utama dari De Djawatan Banyuwangi tentu saja adalah keberadaan ratusan pohon trembesi (Samanea saman) raksasa yang usianya sudah mencapai ratusan tahun. Kanopi daunnya yang sangat lebar saling bertautan satu sama lain, menciptakan semacam “payung” alami yang membuat area di bawahnya terasa sejuk meskipun matahari sedang terik-teriknya.
Yang membuat pemandangan di sini semakin dramatis adalah tanaman epifit (seperti pakis) yang menumpang hidup dan menjuntai dari dahan-dahan besar pohon trembesi tersebut. Kombinasi batang pohon yang bertekstur, dahan yang meliuk-liuk, dan juntaian hijau inilah yang menciptakan ilusi seolah-olah kamu sedang berada di Fangorn Forest, rumah bagi para Ents di semesta Tolkien.
Sejarah Singkat: Dari Tempat Penimbunan Kayu hingga Destinasi Hits
Tahukah kamu bahwa kawasan estetik ini dulunya bukan tempat wisata? De Djawatan sebenarnya adalah aset milik Perhutani, tepatnya difungsikan sebagai Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Benculuk sejak zaman penjajahan Belanda.
Pohon-pohon trembesi ini awalnya ditanam bukan untuk ditebang, melainkan untuk memberikan keteduhan bagi kualitas kayu jati yang ditimbun di bawahnya agar tidak cepat rusak akibat paparan sinar matahari langsung. Seiring berjalannya waktu, tempat ini mulai ditinggalkan dari fungsi utamanya dan keindahan alaminya mulai terekspos ke media sosial. Kini, ia bertransformasi menjadi salah satu penyumbang devisa pariwisata terbesar di daerah Benculuk.
Informasi Praktis: Harga Tiket, Lokasi, dan Rute Menuju De Djawatan
Sebelum berangkat, tentu kamu butuh informasi yang jelas mengenai budget dan akses jalan. Tenang saja, wisata di Banyuwangi terkenal sangat ramah di kantong, termasuk tempat yang satu ini.
Harga Tiket Masuk (HTM) dan Jam Operasional Terbaru
Kamu tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa menikmati pemandangan spektakuler di sini. Berikut adalah rincian biayanya (harga bisa sedikit berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pengelola, namun kisarannya tetap sangat terjangkau):
Tiket Masuk: Rp 7.500 – Rp 10.000 per orang.
Parkir Motor: Rp 2.000.
Parkir Mobil: Rp 5.000.
Jam Buka: Setiap hari, mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.
Panduan Rute Perjalanan Terlengkap
De Djawatan berlokasi di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Lokasinya sangat strategis karena berada tidak jauh dari jalan raya utama provinsi yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember.
Akses dari Pusat Kota Banyuwangi
Jika kamu berangkat dari pusat kota (Alun-Alun Banyuwangi), jarak yang harus ditempuh sekitar 30 kilometer, atau memakan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam perjalanan darat.
Arahkan kendaraanmu ke selatan menuju arah Rogojampi / Jember.
Lurus terus melewati Kecamatan Rogojampi dan Kecamatan Srono.
Saat memasuki area Benculuk, perhatikan marka jalan atau gunakan Google Maps. Pintu masuk De Djawatan berada di sebelah kanan jalan (jika dari arah kota) tepat di sekitar pertigaan lampu merah Benculuk.
Akses untuk Wisatawan dari Arah Jember/Surabaya
Bagi kamu yang road trip dari arah barat (Jember/Surabaya jalur selatan):
Masuk ke Kabupaten Banyuwangi melewati Gunung Kumitir.
Turun ke arah Kecamatan Kalibaru, Glenmore, Genteng, lalu mengarah ke Cluring/Benculuk.
Setibanya di pertigaan lampu merah Benculuk, pintu masuknya akan berada di sebelah kiri jalan.
Aktivitas Seru dan Spot Foto Terbaik di De Djawatan Banyuwangi
Datang ke sini hanya untuk duduk diam saja? Tentu rugi! Ada banyak aktivitas santai namun seru yang bisa kamu lakukan untuk memaksimalkan liburanmu.
Berburu Foto Estetik Bergaya Cinematic
Tidak bisa dipungkiri, 90% pengunjung datang ke sini untuk hunting foto. Lanskapnya sangat mendukung untuk fotografi berkonsep cinematic, fantasy, pre-wedding, hingga dark mood.
Pilih outfit yang kontras: Karena latar belakangnya dominan warna hijau tua dan cokelat gelap, gunakan pakaian berwarna terang seperti putih, kuning mustard, atau merah marun agar kamu “menyala” di dalam foto. Gaun panjang (flowy dress) sangat direkomendasikan untuk memberikan efek dramatis.
Bermain dengan Ray of Light (RoL): Jika kamu beruntung datang di waktu yang tepat dan cuaca sedang cerah, kamu bisa menangkap momen cahaya matahari yang menerobos celah-celah daun. Ini adalah “Holy Grail” bagi para fotografer lanskap.
Eksplorasi sudut bawah (Low Angle): Untuk memperlihatkan seberapa besar dan megahnya pohon trembesi tersebut, minta temanmu memotret dari sudut bawah (frog eye level).
Piknik Santai Bersama Keluarga atau Teman
Kawasan ini sangat ramah untuk keluarga (kids friendly). Hamparan rumput hijau di bawah pohon cukup luas dan bersih.
Bawalah tikar atau alas duduk dari rumah.
Siapkan bekal makanan ringan atau beli jajanan di warung-warung kecil yang dikelola warga lokal di sekitar area wisata.
Catatan Penting: Pastikan untuk selalu menjaga kebersihan. Bawa kantong plastik sendiri untuk membuang sampah agar kelestarian hutan tetap terjaga.
Berkeliling Menggunakan Dokar atau Kuda
Bagi kamu yang membawa anak kecil atau lansia dan tidak ingin terlalu lelah berjalan kaki mengitari area seluas 3,8 hektar ini, pengelola dan warga lokal menyewakan transportasi tradisional.
Dokar (Delman): Kamu bisa menyewa dokar hias untuk berkeliling hutan dengan tarif sekitar Rp 10.000 – Rp 20.000 per orang.
Kuda Tunggang: Ada juga kuda yang bisa disewa khusus untuk berkeliling atau sekadar dijadikan properti foto agar terlihat seperti ksatria abad pertengahan yang sedang membelah hutan!
Tips Liburan Nyaman dan Aman ke De Djawatan
Agar momen jalan-jalanmu ke De Djawatan Banyuwangi berjalan sempurna tanpa kendala, ada beberapa tips praktis yang wajib kamu terapkan.
Waktu Berkunjung Terbaik
Pencahayaan adalah kunci utama saat berkunjung ke wisata alam berkanopi rapat seperti ini.
Pagi Hari vs. Sore Hari: Mana yang Lebih Bagus?
Pagi Hari (07.00 – 09.00 WIB): Ini adalah waktu paling golden. Udara masih sangat segar, kabut tipis terkadang masih menyelimuti tanah memberikan efek mistis, dan peluang mendapatkan Ray of Light sangat besar saat matahari mulai naik. Selain itu, pengunjung belum terlalu ramai.
Sore Hari (15.00 – 16.30 WIB): Jika kamu tidak bisa bangun pagi, sore hari adalah alternatif terbaik. Cahaya matahari mulai condong ke barat memberikan warm tone (warna keemasan) yang cantik.
Hindari Siang Bolong (11.00 – 13.00 WIB): Di waktu ini, matahari tepat berada di atas kepala. Cahaya yang masuk ke hutan akan menciptakan bayangan keras (harsh shadow) di wajahmu, yang mana kurang ideal untuk berfoto.
Persiapan Pakaian dan Perlengkapan
Lotion Anti Nyamuk: Ingat, kamu sedang berada di area hutan yang lembap. Nyamuk dan serangga kecil adalah penduduk asli di sini. Mengoleskan lotion anti nyamuk sebelum masuk akan menyelamatkanmu dari rasa gatal.
Alas Kaki yang Nyaman: Pakailah sneakers atau sandal outdoor datar. Hindari menggunakan heels tinggi karena medannya berupa tanah dan rumput. Jika habis hujan, tanahnya bisa sedikit gembur dan licin.
Bawa Powerbank: Saking banyaknya spot bagus, tanpa sadar baterai kameramu atau HP akan cepat habis karena terus-menerus mengambil foto dan merekam video.
Rekomendasi Tempat Wisata Terdekat
Lokasi De Djawatan berada di jalur selatan wisata Banyuwangi. Sangat sayang jika kamu hanya mengunjungi satu tempat. Setelah puas menikmati kesejukan hutan trembesi, kamu bisa langsung melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata hits lainnya yang searah, seperti:
Pantai Pulau Merah (Red Island): Hanya berjarak sekitar 45 menit perjalanan dari Benculuk ke arah Pesanggaran. Tempat terbaik di Banyuwangi untuk menikmati sunset sambil melihat para surfer menaklukkan ombak.
Pantai Wedi Ireng: Lokasinya dekat dengan Pulau Merah, cocok bagi kamu yang mencari pantai berpasir hitam putih dengan suasana yang jauh lebih sepi dan perawan.
Taman Nasional Alas Purwo: Jika kamu ingin melanjutkan petualangan ke hutan yang sebenarnya dan melihat sabana banteng (Sadengan) atau berselancar di Pantai Plengkung (G-Land), Benculuk adalah pintu gerbang yang tepat sebelum masuk ke area Semenanjung Blambangan.
Ayo Jelajahi Banyuwangi Masukkan De Djawatan Dalam List
De Djawatan Banyuwangi membuktikan bahwa pesona wisata Indonesia tidak kalah bersaing dengan destinasi luar negeri. Dengan budget yang sangat murah, akses jalan yang mudah, dan fasilitas yang sudah memadai, tempat ini menawarkan eskapisme sejenak dari rutinitas yang membosankan. Hutan trembesi raksasa ini bukan sekadar latar belakang foto yang indah, tetapi juga ruang hijau yang menenangkan jiwa.
Jadi, kapan kamu akan menjadwalkan liburan ke ujung timur Pulau Jawa ini? Jangan biarkan rencana liburanmu hanya berakhir sebagai wacana di grup WhatsApp!
